Swaranusa7. com-Kesan agak istimewa dari acara diskusi rutin mingguan Senin-Kamis 13 Oktober 2025 di sekretariat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia), bukan saja diawali dengan melahap gulai kepala ikan kakap, tapi juga karena disambangi oleh sejumlah sahabat dan kerabat GMRI diantara Edy Mulyadi, wartawan senior yang aktif mengelola portal berita Forum News Network (FNN) yang terkenal yang sangat keras mengungkap berbagai kasus yang merongrong negeri ini. Lalu ada kelompok Mas Mamok dari Solo, dan Guntur dari Yogya serta kelompok Kalibata yang diwakili Joyo Yudhantoro, Baladi serta Muhammad Jafar. Sementara Romo Biyos Abiyoso yang telah menjadi peserta permanen baru muncul kembali setelah beberapa kali absen karena kesibukannya. Acara diskusi Senin-Kamis atau Kamis-Senin ini memang lebih terkesan ngobrol santai dengan topik yang muncul spontan, seperti yang tengah menjadi trending topik mulai dari masalah program Makan Bergizi Gratis yang semakin riuh menuai kritik dari masyarakat, mulai dari tata pelaksanaan dari MBG yang tidak cukup populis, karena masih dipaksakan untuk setiap kelompok pengelola minimal sanggup menyediakan 3.000 porsi yang hanya mungkin dapat dilaksanakan oleh para pengusaha yang kuat dalam arti permodalan yang harus dimilikinya.

Kecuali itu, masalah insiden keracunan anak-anak yang mengkonsumsi MBG itu, juga menjadi sorotan, karena cukup beralasan adanya sabotase dari pelaksanaan MBG itu yang masih terjadi secara beruntun dari berbagai tempat dan daerah.

Acara diskusi rutin Senin-Kamis atau Kamis-Senin yang dibesut oleh Wakil Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu ini sepenuhnya dibackup penuh oleh Wowok Prastowo yang sangat sangat cekatan dan sigap mempersiapkan berbagai keperluan diskusi hingga sajian khas minuman beras kencur yang terasa menambah kesegaran tubuh pun telah menjadi bagian dari menu acara diskusi yang nyaris selalu berakhir pada waktu mendekati tengah malam.

Kisah pengalaman ghaib pun sempat diungkapkan Sri Eko Sriyanto Galgendu semasa masih bersama Susuhunan Paku Buwono XII saat masih Mukin di Solo hingga ada semacam “palilah” untuk terus melanjutkan gagasan bersama Gus Dur serta Prof. Dr (Hc) Muhammad Habib Khirzin, hingga pengalaman “Sidang Agung Jagat” yang berlangsung di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta dengan inti acara untuk menjawab perihal “Jongko Jangka Ning Jagat” yang dihadiri oleh para leluhur dan para penguasa Nusantara ketika berjaya.

Ikhwal sebuah bangsa yang kuat, menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu menjalankan semua program yang telah ditentukan. Sehingga sebuah negara dan bangsa yang kuat — seperti yang telah dibuktikan oleh sejumlah negara tetangga, karena berpegang pada kekuatan spiritual, tandasnya. Tentang berakhirnya jaman kejayaan kerajaan “Mataram Islam” tampak dari berakhirnya kejayaan berbagai kerajaan Islam di Nusantara, seperti yang dapat kita saksikan sampai hari. Karena dalam pandangan spiritual Jawa, berakhirnya sebuah kerajaan besar seperti Mataram memang telah menjadi siklus sejarah dan menjadi pertanda jaman akan lahirnya tatanan pemerintahan yang baru yang lebih memiliki sifat dan sikap spiritual yang universal.

Jadi, pertanda dari selesainya Mataram Islam dalam dimensi dan perspektif spiritual bukan runtuhnya kekuasaan, tetapi merupakan suatu momentum dari transisi laku spiritual yang lebih murni dan personal yang tidak lagi terikat pada simbol-simbol kerajaan, lantaran kedaulatan telah disepakati sebagai milik rakyat. Artinya, berakhirnya jaman kejayaan Mataram Islam menandai selesainya satu fase peradaban spiritual-politik Islam tradisional untuk menjadi spiritual politik modern yang akan ditekuni oleh generasi masa kini yang berkutat dalam ruang teknologi digital yang serba cepat. Sehingga tranformasi spiritual yang dahulu hidup dalam struktur kerajaan, kini mulai terjadi transformasi dalam bentuk praksis kultural yang diorientasikan dalam spiritual masyarakat, termasuk laku tradisi, kebatinan dan pendidikan pesantren yang semakin marak dan digandrungi oleh warga masyarakat.

Dalam kontek inilah, pengalaman spiritual yang dialami Sri Eko Sriyanto Galgendu di sebuah pesantren yang ada di Tulung Agung, Jawa Timur yang diasuh Mbah Jalil menjadi pengalaman yang tak terlupakan, karena mendapat sajian khusus dalam wujud 100 porsi hidangan yang dipersiapkan langsung oleh sang Kyai Jalil sendiri, tanpa ada bantuan dari orang lain. Jadi 100 porsi hidangan dalam berbagai ragam menu itu, jelas sifatnya ghaib.

Pecenongan, 13 Oktober 2025Swtr.c-

By Admin9

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *